Indie, Non Mainstream, dan Cutting Edge

Posted on Updated on

Gue kemarin sempet denger berita tentang ICEMA yang baru aja digelar tanggal 18 Juli lalu. Gimana kekurangan dan kelebihannya.

Sebelumnya gue ucapkan selamat atas terselenggaranya dengan sukses Indonesian Cutting Edge Music Award, dan selamat untuk para pemenangnya. Maaf, gue dan NAIF nggak bisa hadir ke sana, karena kami juga harus manggung di tempat lain. Mencari nafkah untuk keluarga. Hehe..

Kembali ke ICEMA. Banyak orang mempertanyakan soal pemakaian kata “cutting edge” itu sendiri. Gue pun sempat mikir hal yang sama. Bila kita ngomongin cutting edge, berarti kita ngangkat segala hal yang berhubungan sama sesuatu yang baru, yang nyeleneh, yang keluar dari kebiasaan (atau dalam bahasa kerennya: out of the box). Di jaman sekarang, apalagi di Indonesia, hal apa lagi yang out of the box ya?

Karena penasarannya, sampai akhirnya keresahan gue itu gue sampein langsung ke salah satu penggagas ICEMA, David Karto (De Majors). Akhirnya gue pun cukup (harus) puas dengan jawaban yang gue terima.

Memang, kata “indie” sepertinya udah terlalu usang untuk dipakai dalam sebuah nama program atau kegiatan. Gue pun setuju sama Mr. Karto kalo kata “indie” itu sebenernya nggak tepat untuk dipakai dalam pengklasifikasian jenis musik (bukan genre lho), karena indie itu sebenernya adalah sebuah jalur. Kata “non mainstream” mungkin adalah yang paling tepat untuk menggantikan “indie” yang udah terlanjur salah kaprah diterjemahkan oleh masyarakat kita. Tapi karena “non mainstream” kepanjangan untuk dipakai dalam judul, maka jadilah “cutting edge” menggantikan peran “non mainstream” di sini.

Menurut gue ICEMA adalah acara yang keren. Konsepnya sangat nyentil. Memang, dalam dunia industri – apapun – akan sangat mungkin bakal terjadi kesenjangan antara pihak raksasanya yang besar dengan pelaku industri kecil. Kemudian umumnya akan muncul kelompok-kelompok yang nggak puas sama kondisi industri besar yang penuh monopoli. Begitu pula dalam industri musik. Akhirnya nongollah gerakan independent yang kemudian ngetop dengan istilah “indie”.

Belakangan, indie menjadi trend. Lo nggak keren kalo nggak indie, begitu kurang lebih image yang dibentuk. Lagi-lagi aroma komoditi baru tercium di sini. Banyak acara dan kegiatan yang misinya – baik itu tulus atau sekedar ngikut trend aja – untuk mendukung gerakan musisi non mainstream dan bakat-bakat muda yang belum tersalurkan secara maksimal. Indie pun terdengar di mana-mana. Banyak musisi non mainstream yang akhirnya bisa dikenal orang. Semua orang mulai mengakui eksistensi mereka. Tapi belum ada acara yang bermisi untuk menghargai hasil kerja para musisi non mainstream. Nah, di sinilah cerdasnya ICEMA mengambil lahan itu, yang jelas-jelas masih kosong. Awarding ini bisa jadi tempat bagi mereka yang berpotensi tinggi dalam musik dan cukup diakui, tapi ngerasa kurang dihargai sama pasar (baca: masyarakat luas). Dari sinilah para musisi non mainstream diharapkan bisa lebih bikin orang jadi melirik mereka dan lebih bisa membuktikan masyarakat luas bahwa mereka juga layak diperhitungkan.

Sangat disayangkan kalo ada pihak yang mikir bahwa acara ini dibikin untuk memerangi sang industri mainstream. Dan amat disayangkan juga kalo dari pihak ICEMA nggak memikirkan untuk mengekspand sisi promosi dan pemberitaan mengenai acara ini. Karena – entah guenya yang kurang memonitor atau gimana – gue nggak ngeliat ada publikasi yang besar dalam ajang ini. Karena, menurut gue, walaupun kita berkiprah dalam lingkup yang kecil, bukan berarti lantas kita menutup diri sama mereka yang ada di luar sana, kan? Biar gimana pun, kita kudu mengupayakan lebih keras agar karya kita terdengar di ujung sana.

Event ini sebaiknya gak usah jd gap antara mainstream dengan non mainstream. Jadikanlah acara ini bagian dari entertainment, yang bisa jadi hiburan kita semua sekaligus mengapresiasi karya musisi-musisi kita. Biarlah ujung-ujungnya masyarakat yang menilai sendiri.

Antara musik mainstream dan nonmainstream, semua toh judulnya sama: berkarya. Tapi dengan caranya masing2.

Pokoknya Indonesia Rocks deh!

Franki Indrasmoro / Pepeng

* Dikutip dari http://frankiindrasmoro.com/
Posted: July 20, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s