Slice of your pie #2 : ~ Sepultura – Beneath The Remains ~

Posted on Updated on

Saya sedang melakukan shuffle iTunes saya hari ini dan secara tiba-tiba, iTunes saya memutar lagu dari SEPULTURA – Beneath The Remains dari album dengan judul sama.

Saya agak terhenyak dan kaget dengan kualitas sound yang begitu dahsyat keluar dari headphone saya. Terpikir untuk napak tilas mendengarkan satu album penuh dengan kondisi dan interpretasi saya sekarang dibanding dulu.

Kembali ke tahun 1989, dimana album ini pertama kali keluar, saya meminjam kasetnya dari teman sekelas saya di SMP waktu itu. Tentu saja, karena waktu itu Metal sedang trend dan saya juga tidak mau ketinggalan jaman dong, hehehe.

Saya sudah menyukai musik Sepultura ketika pertama kali mendengarkannya. Waktu itu, media mendengarkan musik untuk saya adalah kaset dengan mini kompo yang menyatu dengan speaker. Tentu kualitasnya tidak bagus, juga waktu itu saya tidak pernah ngeh mengenai kualitas musik.

Sepultura bukan band sembarang metal. Mereka benar-benar tahu apa yang mereka lakukan. Musik metal yang mereka mainkan bisa dibilang berbeda dengan band-band metal saat itu. Mereka cukup berani melakukan perpindahan chord dan beat dengan extreme tanpa mengurangi intensitas musiknya, hampir mendekati progresif (if you put it that way). Itulah yang membuat mereka menjadi band metal favorit saya dibanding band lainnya waktu itu.

Album ini di produseri oleh Scott Burns dan direkam di studio Nas Nuvens, Rio De Janeiro, Brazil. Keseluruhan musik di album ini sangat “tight” dengan sound drum dan bass yang padat dan gitar yang heavy. Ketika saya dengarkan lagi sekarang, banyak terdapat detail yang tidak saya perhatikan ketika pertama kali mendengarkannya 20 tahun lalu. Sound gitar Max Cavalera dengan Andreas Kisser sebetulnya mirip, tetapi ketika solo, gitar Andreas seolah mengoyak kepadatan rythm. Lick dan progresi solo Andreas Kisser kadang terasa tidak masuk dan tidak berada di scale yang sama dengan musiknya, tetapi itu yang membuatnya unik.

Tentu saja, haram hukumnya kita membahas Sepultura kalau tidak memberikan kredit kepada Igor Cavalera, sang drummer maha handal yang menjadi tulang punggung band ini menurut saya. Apabila didengarkan dengan seksama, keseluruhan tone dan frekuensi di album ini berada di level frekuensi yang sama, bahkan di beberapa bagian, suara gitar, bass dan kick drum terdengar sama dan tidak ada bedanya, itu karena sangking “tight” hasil mixingnya.

Dari mulai musik, lirik, produksi sound, cover artwork (bikinan Michael Whelan) di album ini semuanya sempurna.

…Oh, dan alangkah bahagianya saya ketika mereka ternyata datang melakukan konser di Jakarta dulu. Saya bahkan sempat meet & greet dan mendapatkan tanda tangan mereka di kaset “Schizophrenia” saya. Mimpi jadi kenyataan.

Tetapi pengalaman saya dengan Sepultura tidak berhenti sampai disitu. Sekitar 10 tahun kemudian, papah memberikan saya gitar Fender Stratocaster yang saya idamkan sejak lama. Setelah ditelusuri, gitar ini dulu milik Irvan, vokalis dan gitaris band ROTOR yang waktu itu menjadi band pembuka Sepultura. Gitar ini juga yang digunakan olehnya waktu itu, dan gitar ini yang saya mainkan sampai sekarang dan saya beri nama “Shirley” =)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s