Raksasa: Badai blues dalam api rock n’ roll (Yahoo! Indonesia, Mohammed Ikhwan)

Posted on

Jantung saya langsung digedor oleh intro “Insomnia”, lagu pertama di album perdana Raksasa yang diberi tajuk sama dengan nama kumpulannya. Hampir sepuluh kali memutar CD-nya selama beberapa hari, saya mendapat kesan bahwa album ini mempunyai semangat yang membakar!

Raksasa bisa dikatakan sebagai sebuah supergrup indie. Personelnya terdiri dari individu-individu yang jam terbangnya cukup tinggi. Sang penggebuk drum adalah Frakni Indrasmoro, yang tak lain adalah Pepeng (Naif). Ditemani Bonny Sidharta (Dead Squad) pada bass, mereka berdua menjaga irama Raksasa yang menyala-nyala. Di sisi melodi, dua kubu gitar berpadu. Iman Fattah (Zeke and The Popo, Tika and The Dissidents) bahu-membahu dengan Adrian Adioetomo, yang belakangan terkenal dengan genre Delta Blues-nya. Departemen vokal dibungkus oleh suara high-pitch Adi Cumzky (Fable).

Badai blues disebar di sana-sini. Unsur yang paling menarik adalah dua gitar Iman dan Adrian, yang menari-nari liar hampir di setiap lagu. Bass dengan progresi dahsyat muncul di “Kota Dosa” dan mengejutkan di tengah lagu “Diculik Ke Surga”. Lagu-lagu Raksasa dibungkus dengan irama rock ‘n’ roll dalam presisi ketukan drum yang bergas.

Tak salah jika mereka mengambil nama Raksasa. Selain berasosiasi makna besar, keras dan kuat, ternyata masih ada satu cerita di balik nama tersebut. Pertama kali bergabung—saat itu masih dengan nama Indie All Stars—mereka membawakan lagu milik God Bless berjudul “Raksasa”.

Nomor-nomor yang segera menarik perhatian adalah lagu pertama, “Insomnia”, dan lagu berirama nakal “Pesawatku Delay”. Dan lagu santai “Seribu Tawon” yang liriknya yang mungkin bisa diinterpretasikan pada keadaan penyalahgunaan obat bius.

Bonita, sang biduanita yang fasih berirama soul didapuk membantu vokal dalam “Badai Antariksa”—lagu yang bertema unik tentang luar angkasa dan kemungkinan kiamat.

Dengan latar belakang musikalitas yang berbeda, mereka tentu ingin menyumbangkan keahlian mereka dalam lagu. Konsekuensinya adalah keberagaman dalam total 9 lagu dalam album mereka. Di satu sisi, hal tersebut menggambarkan kehebatan Raksasa. Di sisi lain, beberapa orang mungkin akan bingung dengan kekayaan materi album ini.

Para personel terlihat bersenang-senang, terutama pada sesi solo “Badai Antariksa” dan “Kota Dosa”, dua lagu yang takaran durasinya juga berlebih. Jika lagu lainnya dipatok sekitar 4 hingga 5 menit, kedua lagu di atas berkembang hingga 8 menit!

Harapan saya tinggal satu: menonton mereka bermain secara langsung. Pasti sangat menyenangkan.

Satu lagi, CD Raksasa album pertama ini dikemas cukup apik—setidaknya dibandingkan dengan album-album lokal sejenis. Artwork sampul yang didesain sang vokalis cukup menarik perhatian. Keseluruhan paket CD dibalut dengan bahan dan finishing yang keren.

Kabarnya setelah mengeluarkan dua single dalam beberapa bulan terakhir, Raksasa mendapatkan respon yang hebat dari penikmat musik tanah air. Siapa yang tak semangat mendengar badai blues dalam nyala api rock ‘n’ roll?

Original link

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s