Reviews

Album review by Kamar Musik

Posted on

Disini : http://kamarmusik.com/artikel-151-4.html#.T81IBm1DfV4.twitter

Advertisements

Bercampurnya musik rock ala Raksasa (Indonesiakreatif.net)

Posted on

Bercampurnya Musik Rock ala Raksasa

05 September 2011

Gara-gara membawakan lagu God Bless yang berjudul Raksasa, sekelompok anak band yang terdiri dari Pepeng (drum) dari Naif, Eka Annash (vokal) dari The Brandals, Sammy (bas) dari Seringai, Iman Fattah (gitar) dari Zeke And The Popo, dan Adrian Adioetomo (gitar), akhirnya memproklamirkan band mereka dengan nama Raksasa. Sejak itu mereka kerap melakukan jam session di studio dan akhirnya mereka berniat untuk menjalankan band ini dengan serius. Namun, di akhir 2009, Eka dam Sammy mengundurkan diri yang kemudian diganti oleh Adi Cumi dari Fable dan Bonny dari Dead Squad. Mereka pun mengganti nama band-nya menjadi Raksasa Project.

Formasi baru berarti lagu baru, dan mereka pun melempar sebuah single pada tahun 2010 yang berjudul Pesawatku Delay. Lagu yang berisi sindiran terhadap kinerja maskapai penerbangan Indonesia, diaransemen dengan bergaya Blues Rock.

Pertengahan Agustus 2011, Pepeng dkk, kembali menggunakan nama Raksasa, tanpa ‘Project’-nya. Dan pada September 2011 ini, mereka akan mengeluarkan album yang berjudul Insomnia.

Walaupun berasal dari grup yang berbeda genre, masing-masing personil Raksasa masih setia pada karakternya sendiri, dan mereka mencampur adukkan semua elemen itu ke dalam musik Raksasa. Seperti Pepeng dengan gebukan drum Rock And Roll-nya, lalu bertemu Bonny yang memiliki karakter metal yang cadas, ditambah lagi duo gitaris Iman yang kental dalam permainan blues psychedelic dengan experimental sound, dan Adrian yang identik dengan permainan slide-nya yang menambah keunikan Raksasa. Tidak lupa suara melengking yang dimiliki Adi membuat Raksasa terasa semakin hidup.

Keberagaman latar belakang musik yang mereka miliki membuat Raksasa beda dari band lainnya. Dari keberagaman yang mereka miliki di dalam raksasa, ada satu kesamaan yang mereka tetap pertahankan, yaitu semangat musik mereka: Rock!

Diambil dari sini

Jakarta Band’s Classic Sound Has Giant Ambitions (The Jakarta Globe, Marcel Thee)

Posted on Updated on

Jakarta-based rock band Raksasa make no bones about its aspirations. With a name that translates as “Giant,” they recreate a gigantic take on classic rock that sounds tailor-made to fill up arenas and move fans. Taking their name from a 1989 album by Indonesian rock titans God Bless, Raksasa also bears more than a slight aural resemblance to that long-living crew.

On its self-titled debut record, the quintet’s aim is to bombastically bombard every inch of the body’s senses and hopefully get you going with loud guitars atop loud drums atop loud basses atop screeching vocals. It’s clear that Raksasa places little interest, for now, in dynamics. If anything, the band is slightly reminiscent of AC/DC in its minimalist, back-to-the-roots approach. This sonic particularity, along with the over-polished production quality, is both the record’s strength and weakness.

Made up of known players from various acts in the local music scene, Raksasa mostly relies on scorching, bluesy riffs courtesy of multi-instrumentalist Iman Fattah, from the bands Lain and Zeke and the Popo, and slide-guitar specialist and solo blues artist Adrian Adioetomo.

While the rhythm section of drummer Franki Indasmoro (from the massively successful retro pop act Naif) and bass player Bonny Sidharta (from a variety of heavy metal acts) handle their respective duties with admirably precise poundings, it is mostly the six-stringed instrument that commands the tracks’ dynamics.

Opening track “Insomnia” is imposing. Beginning with a rocketing build-up before diving into a blues-metal riffing evocative of ‘80s heavy metal, the song wouldn’t sound out of place in an early period Motley Crue record, complete with a sing-along chorus and call-and-response guitar solos.

For what it’s worth, lead singer Adi Cumzki’s screeching vocals would not sound out of place in the ‘80s Sunset Strip scene. His vocals, in particular, are a make or break for listeners who will either enjoy or deride the record.

“Badai Antariksa” (“Space Storms”) pulls further into rock’s history by conjuring the aural riffing of Blue Oyster Cult before diving into psychedelic territory for its jammy midsection. Its placing as the second track is an odd choice and stalls the opener’s momentum a tad.

“Nyalakan Apimu” (“Light Your Fire”) steers the air back into the arena, not only with that flicker-calling of a title but with an immediate riff and Adrian’s plentiful squelching guitar histrionics. With a breakdown that suddenly becomes whisper-quiet before swelling back up into really cool guitar lines, it makes for one of the record’s best moments.

The rest of the album mostly treads similar territory, with minor variations.

“Pesawatku Delay” (“My Airplane’s Delayed”) adds rockable rhythm onto the mix but is dragged down by the incessant repeat of its purposefully literal title line in the chorus. It’s an engaging shtick that wears out its welcome soon enough.

“Diculik ke Surga” (“Kidnapped to Heaven”) is a funkified version of Led Zeppelin’s “Black Dog” chock full with wah-wah guitar lines. “Seribu Tawon” (“A Thousand Bees”) is the record’s sole mellow moment, with one of the record’s slight left turns in the form of a seaside-ambient, harmony-laden breakdown.

Closer “Kota Dosa” (“Sin City”) marches at breakneck speed sounding, for better or worse, like an old-school hair metal act covering a ‘70s punk rock band.

With its debut, Raksasa aims for an attitude-driven introduction, hence the overall straightforwardness of the tracks which, save for a curveball here and there, run through the same motions of a classic rock record.

With Raksasa’s able and experienced members, conviction comes into play, resulting in many great basement jams that sometimes don’t translate well when put on record. To their credit, the members of Raksasa manage to mostly suppress their individual technicality and serve the songs’ arrangements. And for tracks inspired by jam sessions, there is enough here to come back to. There are far fewer discordant, masturbatory jams and far more complete songs than you would expect from a supergroup of sorts.

You do wish the band spent as much time in the generic sleeve as they did refining the songs, but as it is, Raksasa is an enjoyable, if particular, debut.

Raksasa – ‘Raksasa’
(Self-released/distributed by Demajors)
Available at record stores

Original source here

Raksasa: Badai blues dalam api rock n’ roll (Yahoo! Indonesia, Mohammed Ikhwan)

Posted on

Jantung saya langsung digedor oleh intro “Insomnia”, lagu pertama di album perdana Raksasa yang diberi tajuk sama dengan nama kumpulannya. Hampir sepuluh kali memutar CD-nya selama beberapa hari, saya mendapat kesan bahwa album ini mempunyai semangat yang membakar!

Raksasa bisa dikatakan sebagai sebuah supergrup indie. Personelnya terdiri dari individu-individu yang jam terbangnya cukup tinggi. Sang penggebuk drum adalah Frakni Indrasmoro, yang tak lain adalah Pepeng (Naif). Ditemani Bonny Sidharta (Dead Squad) pada bass, mereka berdua menjaga irama Raksasa yang menyala-nyala. Di sisi melodi, dua kubu gitar berpadu. Iman Fattah (Zeke and The Popo, Tika and The Dissidents) bahu-membahu dengan Adrian Adioetomo, yang belakangan terkenal dengan genre Delta Blues-nya. Departemen vokal dibungkus oleh suara high-pitch Adi Cumzky (Fable).

Badai blues disebar di sana-sini. Unsur yang paling menarik adalah dua gitar Iman dan Adrian, yang menari-nari liar hampir di setiap lagu. Bass dengan progresi dahsyat muncul di “Kota Dosa” dan mengejutkan di tengah lagu “Diculik Ke Surga”. Lagu-lagu Raksasa dibungkus dengan irama rock ‘n’ roll dalam presisi ketukan drum yang bergas.

Tak salah jika mereka mengambil nama Raksasa. Selain berasosiasi makna besar, keras dan kuat, ternyata masih ada satu cerita di balik nama tersebut. Pertama kali bergabung—saat itu masih dengan nama Indie All Stars—mereka membawakan lagu milik God Bless berjudul “Raksasa”.

Nomor-nomor yang segera menarik perhatian adalah lagu pertama, “Insomnia”, dan lagu berirama nakal “Pesawatku Delay”. Dan lagu santai “Seribu Tawon” yang liriknya yang mungkin bisa diinterpretasikan pada keadaan penyalahgunaan obat bius.

Bonita, sang biduanita yang fasih berirama soul didapuk membantu vokal dalam “Badai Antariksa”—lagu yang bertema unik tentang luar angkasa dan kemungkinan kiamat.

Dengan latar belakang musikalitas yang berbeda, mereka tentu ingin menyumbangkan keahlian mereka dalam lagu. Konsekuensinya adalah keberagaman dalam total 9 lagu dalam album mereka. Di satu sisi, hal tersebut menggambarkan kehebatan Raksasa. Di sisi lain, beberapa orang mungkin akan bingung dengan kekayaan materi album ini.

Para personel terlihat bersenang-senang, terutama pada sesi solo “Badai Antariksa” dan “Kota Dosa”, dua lagu yang takaran durasinya juga berlebih. Jika lagu lainnya dipatok sekitar 4 hingga 5 menit, kedua lagu di atas berkembang hingga 8 menit!

Harapan saya tinggal satu: menonton mereka bermain secara langsung. Pasti sangat menyenangkan.

Satu lagi, CD Raksasa album pertama ini dikemas cukup apik—setidaknya dibandingkan dengan album-album lokal sejenis. Artwork sampul yang didesain sang vokalis cukup menarik perhatian. Keseluruhan paket CD dibalut dengan bahan dan finishing yang keren.

Kabarnya setelah mengeluarkan dua single dalam beberapa bulan terakhir, Raksasa mendapatkan respon yang hebat dari penikmat musik tanah air. Siapa yang tak semangat mendengar badai blues dalam nyala api rock ‘n’ roll?

Original link

Raksasa: Laskar Pelangi Indie (Oleh Rudolf Dethu)

Posted on

Jika memperhatikan sosok orang-orang yang terlibat maka spontan muncul kesimpulan: dream team, all stars, dan segala tajuk yang menggambarkan sebuah kolaborasi duh-ideal. Bagaimana tidak, bayangkan sebuah grup musik yang anggotanya adalah veteran indie macam Adi Cumi (personel Fable) sebagai biduan, Iman Fattah (anggota Zeke and the Popo sekaligus produser Tika and the Dissidents) pada gitar, Bonny Sidharta (punggawa Deadsquad) bertanggungjawab untuk bas, Franki Indrasmoro alias Pepeng (NAIF) di departemen drum serta solois aktivis delta blues, Adrian Adioetomo, mengurusi gitar. Mereka, para individu digdaya itu, bergabung dalam sebuah kelompok bernama Raksasa.

Pertama kali muncul ke publik pada Agustus 2008, Adib Hidayat, figur berpengaruh di skena musik Indonesia, adalah pemrakarsa pertama Raksasa. Saat itu masih menggunakan nama Indie All Stars serta formasi sedikit berbeda, mereka memutuskan mengubah nama menjadi Raksasa pasca menyanyikan lagu milik God Bless.

Akhirnya pada Agustus 2010 kuintet ini menerbitkan single pertamanya, “Pesawatku Delay”; sepucuk tembang usil bernuansa blues rock yang menyindir kinerja maskapai penerbangan negeri ini. Berlanjut pada Agustus 2011 merilis racikan kedua bertajuk, “Insomnia”. Sampai finalnya kemudian lahirlah album perdana berjudul sama dengan nama band pada 26 November 2011, Raksasa.

Album berisikan 9 lagu ini didominasi oleh komposisi bertempo cepat, progresif, namun tetap nyaman dikonsumsi kuping. Tentu saja fenomena sejenis itu bisa termunculkan akibat faktor saling silang nan berbahaya antara Pepeng dengan ciri khas aksi drumnya yang rock-n-roll lagi nakal, ditimpali permainan bas Bonny yang keras-bertenaga, diperkuat duel gitar blues-psychedelic + experimental sound oleh Iman Fattah serta Adrian Adioetomo dengan manuver slide-nya, serta ditingkahi vokal melengking tinggi dari Adi Cumi. Didistribusikan oleh demajors, sampul album ini dikerjakan sendiri oleh sang penyanyi Adi Cumi yang notabene memang seorang seniman visual berbakat.

Ikuti terus perkembangan terkini Raksasa lewat blog mereka di https://raksasaband.wordpress.com

English version

Raksasa is a new supergroup consisting of indie music movers and shakers: Adi Cumi (frontman of Fable) on vocal, Iman Fattah (Zeke and the Popo, Tika and the Dissidents) on guitar, Bonny Sidharta (Deadsquad) on bass, Pepeng (NAIF) on drums, and delta blues acitivist Adrian Adioetomo on guitar.

Founded in August 2008 by Adib Hidayat, a key figure in Indonesian music scene, Raksasa released their first single in August 2010, “Pesawatku Delay”, and their second in August 2011 called “Insomnia”. Finally their self-titled debut album published on November 26, 2011.

The fast tempo, progressive, yet listenable album consist of nine songs and distributed by demajors. While Adi Cumi himself did the artwork for the album.

Original link

Review album Raksasa oleh DJWirya.com

Posted on

Raksasa Menyuguhkan musikalitas yang kuat

10 Desember 2011; 13:44 wib

Artis : Raksasa
Album : Raksasa
Label : Demajors
Rilis : 2011

Djwirya.com – Pernah merasakan diinjak makhluk bernama Raksasa? Jika belum kita bisa merasakannya secara tidak langsung dengan mendengarkan dan memanipulasi otak kita lewat album dari band yang mengkultuskan nama “Raksasa” sebagai identitas mereka.

Adalah Ady Cumzky (vokal), Iman Fattah (gitar dan vokal latar), Adrian Adioetomo (gitar dan slide gitar), Bonny Sidharta (bass), dan Franki Indra Asmoro (drum dan perkusi) yang bersatu untuk menjadi sesosok raksasa yang siap menghadirkan teror di industri musik Indonesia lewat materi lagu-lagu di album pertama mereka.

Dimulai dari track pertama “Insomnia”. Sebuah lagu yang menceritakan tentang keluh kesah serta protes orang yang mengidap penyakit susah tidur akut akibat tuntutan profesi pekerjaan dan mempunyai keinginan untuk lepas dari belenggu itu. Hentakan power drum dan aksi solo gitar pada lagu tersebut cukup menendang sebagai pembuka karena itu adalah titik awal untuk lebih merasakan keganasan di lagu-lagu selanjutnya, seperti di lagu kedua yang berjudul “Badai Antariksa” Dengan nuansa Rock-Blues, efek gitar flanger pada intro, serta tambahan vokal Bonita pada suara latar berhasil membuat lagu ini makin ciamik dan seksi untuk dinikmati.

Selanjutnya ada lagu “Nyalakan Apimu” yang berlandaskan lirik pemompa semangat ala anak muda untuk tetap berjuang menghadapi kehidupan nyata. Lalu setelahnya ada lagu “Taklukan Dunia”, “Pesawatku Delay”, dan “Diculik Ke Surga” yang lagi-lagi peranan scale gitar Delta Blues dari seorang Adrian Adioetomo sangat kental pada lagu tersebut. Ada satu anomali pada album ini, yaitu ketika mendengarkan track nomor tujuh “Seribu Tawon”. Entah dimaksudkan seperti apa, tapi lagu ini berbeda dari delapan lagu lainnya karena dibawakan hanya dengan alunan slide gitar akustik, vokal santai, dan pukulan perkusi. Untuk dua lagu terakhir ada lagu “Vampir Betina (Penyiksa Iman) dan “Kota Dosa” yang jika melihat liriknya secara skeptis mungkin bisa disimpulkan bahwa Adi Cumzky mendapatkan ilham menulis lirik lagu ini dari fenomena yang terjadi di ibukota.

Jadi secara subjektif, Raksasa berhasil membawakan musik berkualitas dan kembali mengingatkan hegemoni periode 90-an ketika musik Blues, Heavy Metal, dan Rock menjadi primadona.

Track List :
1. Insomnia
2. Badai Antariksa Feat Bonita
3. Nyalakan Apimu
4. Taklukan Dunia
5. Pesawatku Delay
6. Diculik Ke surge
7. Seribu Tawon
8. Vampir Betina (Penyiksa Iman)
9. Kota Dosa

Andrew Mahardika – Djwirya.com

*Hak Cipta dilindungi undang-undang, Pengambilan berita dalam bentuk apapun harus dengan ijin ke redaksi djwirya.com secara tertulis.

Original link

Review album Raksasa oleh Okezone.com

Posted on Updated on

JAKARTA – Para rocker yang sudah menjalani jam terbang tinggi di blantika musik Indonesia, mereka membentuk grup band bernama Raksasa. Mereka mengisi kekosongan warna musik yang mereka usung, dan siap ‘menjangkiti’ manusia Indonesia masuk melalui indera pendengaran.

Band yang digawangi oleh Pepeng (drum), Adi Cumi (vokal), Iman Fattah (gitar), Bonny Sidharta (bass), dan Adrian Adioetomo (gitar) resmi meluncurkan album perdana yang bertajuk Raksasa (self title). Mereka sebelumnya sudah menyebarkan dua single berjudul Insomnia dan Pesawatku Delay.

Dalam album tersebut, terdapat sembilan lagu berirama rock, meskipun lagu-lagunya lebih banyak yang bertempo cepat, bukan berarti lagu-lagu mereka sulit untuk dinikmati. Seperi rilis dalam rilisnya, Senin (12/12/2011).

Simak saja lagu yang berjudul Seribu Tawon, lagu ini musiknya begitu asik dan terdengar sangat santai tanpa hentakan melodi yang berpacu, meskipun ditengah lagu bercampur nada yang sedikit gelap. Lirik yang tertuang dalam album ‘Raksasa’ ini juga berbicara tentang keadaaan sosial yang terjadi disekitar kita, seperti pada lagu Kota Dosa dan Pesawatku Delay.

Lalu simak juga lagu Nyalakan Apimu dan Taklukan Dunia, musiknya mampu memberikan semangat. Selain itu, lagu Badai Antariksa, Diculik Ke Surga, dan Vampir Betina. (tre)

Original link