Writings

PRESS RELEASE: SETAN JALANAN – RAKSASA

Posted on Updated on

SETAN JALANAN, sebuah single terbaru RAKSASA, telah dirilis secara resmi tadi malam, Kamis, 14 November 2013, tepat di jam 21:21 WIB.

Semua radio telah menerima materi lagu dan press release kami. Kalian sudah bisa mendengar dan me-request lagu tersebut di radio kesayangan kalian.

Ini adalah press release SETAN JALANAN – RAKSASA.

RKS-SJ.Press

Raksasa-SJ-Low

Advertisements

Shooting video

Posted on Updated on

RAKSASA Shooting Video Klip!

“4.56 batman @i_frank diserang #seributawon #insomnia @raksasaband ga tidur malam ini.”

Begitu isi sebuah mention di akun twitter gue kemarin jam 4:56 subuh. Di twitter memang gue kerap disapa sebagai Batman, karena kebiasaan begadang gue (yang sekarang perlahan mulai gue kurangi). Sedangkan Seribu Tawon dan Insomnia adalah judul dua lagu band gue selain NAIF, yang bernama RAKSASA. Yep, kemarin (Sabtu, 9 Juni 2012) RAKSASA melakukan shooting video klip… Alhamdulillah, akhirnya! Hehe. Shooting diadakan di Rossi Musik, sebuah studio dan sekolah musik di sekitar jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Video klip RAKSASA disutradarai oleh Budi Cuprit, kawan lama gue juga yang sekaligus merupakan salah satu fotografer resminya NAIF yang belakangan ini lagi giat mengumpulkan portofolio sebagai seorang sutradara video musik. Karya terakhir Cuprit sebelum dia mengerjakan klipnya RAKSASA adalah video klip Cinta Untuknya, single ketiga NAIF dari ablum Planet Cinta. Budi Cuprit adalah fotografer yang pernah ngerjain foto-foto dalam beberapa album milik NAIF juga, seperti Titik Cerah, Retropolis, Televisi dan Planet Cinta.

Shooting video klip RAKSASA seharusnya udah berlangsung sejak bulan Februari 2012 lalu, tapi selalu aja ada kendala di tengah jalan yang menggagalkan rencana produksi klipnya. Dan akhirnya baru bulan Juni inilah shooting bisa dilakukan, langsung sekaligus dua klip dalam semalam!

Lirik lagu Insomnia bercerita tentang kegalauan seseorang yang punya penyakit kesulitan tidur di malam hari sehingga keinginan terbesarnya saat ini adalah cuma satu: bisa memejamkan mata untuk beristirahat. Konsep yang ada di dalam klip juga nggak lari jauh dari tema lagunya. Kami, RAKSASA (gue, Iman Fattah, Adi Cumzky, Bonny Sidharta dan Adrian Adioetomo) ceritanya ngeband sejak semalam suntuk sampai pagi saat matahari terbit. Mau nggak mau shooting juga dilakukan semalaman, sampai pagi. Shooting Insomnia dilakukan di roof top milik gedung Rossi Musik, sejak jam tiga dinihari di hari Minggu, 10 Juni 2012.

Sedangkan sebelumnya udah dikerjakan duluan shooting klip Seribu Tawon, hari Sabtu sorenya, sampai tengah malam. Lagu Seribu Tawon liriknya pun nggak terlalu jauh dari suasana mengawang seseorang yang terjebak di antara kantuknya dan insomnia. Dalam versi videonya, Seribu Tawon diceritakan menjadi sebuah sequel dari klip lagu Insomnia. Setelah RAKSASA ceritanya ngeband semalaman sampai pagi, mereka kecape’an dan masuk ke dalam ruangan yang berantakan setelah pesta semalaman, dan berusaha tidur di situ. Dalam kantuk itu si Cumzky sang vokalis bermimpi tentang suasana pesta semalam yang menyenangkan. Di sinilah adegan ngebandnya RAKSASA diadakan di lagu ini. Cuprit menggunakan teknik slo-mo (slow motion) yang disesuaikan dengan irama lagu, sehingga ia bisa merekam setiap gerakan cepat kami saat ngeband dengan audio lagu Seribu Tawon yang dipercepat temponya dua kali lipat. Serulah pokoknya!

Yang bikin seru lagi di shooting ini, kami menggunakan banyak properti, seperti buku-buku, majalah, ruangan yang penuh barang yang diberantakin semua. Padahal sih ruangan yang diberantakin itu adalah ruangan bossnya Rossi Musik yang kita “pinjam” dulu. Haha! Udah lama gue nggak shooting video dengan properti banyak. Dan, klip ini juga dikerjakan secara swadaya. Semua tenaga, pikiran, materi dan bantuan kawan-kawan dekat kita kerahkan di sini. Feels great, man!

Silakan intip aja foto-foto suasana shooting waktu itu, yang gue kutip dari postingan twitternya Iman, Ryant Mbek (fotografer yang merekam foto behind the scene), dan gue juga, yang semua terekam di hashtag #RAKSASAonLocation kalo kamu search di twitter.

Banyak terima kasih buat Rossi Musik yang sudah berbaik hati ngasih ijin buat RAKSASA porak porandakan setiap ruangannya, juga buat Budi Cuprit yang udah support RAKSASA, buat Ipung sang fotografer NAIF yang udah mau diculik dari kantornya untuk begadang semalaman ngebantuin Cuprit ngedirect, Ryant Mbek perekam behind the scene, dan kru-kru ciamik kami Thukulanda, Awaluddin, dan Nanang dari NAIFFUNCLUB, juga mas Heru Susanto dari Begundal NAIF.

Rencananya setelah ini video klip akan diedit langsung oleh bassist RAKSASA, bang Bonny Sidharta. Memang sehari-harinya si abang yang botak unyu itu berprofesi sebagai editor video. Yang mau pake jasanya untuk ngedit video kawinan, atau sunatan, atau pesta-pesta lainnya, silakan aja mention dia di twitternya: @Bijiganja. Hahaha!

Jakarta, 11 Juni 2012

10:22 WIB

 

– Franki indrasmoro-

RAKSASA… LET’S ROCK 2012!

Posted on

Memperkenalkan: RAKSASA.

Band gue selain NAIF. Tanggal 26 November 2011 lalu band yang unsur rock-nya kental ini baru aja ngerilis album. Udah tau? Belum? Hmm… Kalau belum, berarti kalian perlu mampir ke blog kami (www.raksasaband.wordpress.com) dan mengunduh beberapa lagunya. Gratis kok.

Gue masih inget banget… dulu, bulan Agustus tahun 2008, betapa bersemangatnya gue, Iman Fattah, Adrian Adioetomo (Ian), beserta dua mantan personil RAKSASA – Sammy Bramantyo (Seringai) dan Eka Annash (Brandals) – untuk ngejalanin band yang terbentuk secara nggak sengaja ini setelah dipertemukan dengan sengaja oleh mas Adib Hidayat (Rolling Stone Indonesia) di sebuah kegiatan sosial.

Sehabis manggung di acara yang disiarkan di tivi swasta nasional juga itu – ngebawain lagu Raksasa milik God Bless, yang langsung mendapat applause luar biasa di sana – kami langsung ngerasa sreg satu sama lain untuk nerusin band yang awalnya bernama Indie All Stars ini (hehe, namanya agak “berat” kayaknya), dan rutin latihan di studio.

Gue inget banget juga, setahun kemudian (2009) gue ngumpulin Iman dkk lagi setelah beberapa bulan vakum, untuk lebih ngeseriusin proyek kami yang kemudian diganti namanya jadi RAKSASA PROJECT ini. Kata “Raksasa” –nya diambil dari judul lagu God Bless yang kami bawakan di panggung pertama kami setahun sebelumnya. Dan inget banget juga akan rencana awal kami bikin album covering lagu-lagu Indonesia lawas yang diaransemen ulang jadi rock. Juga nggak akan pernah lupa moment tahun 2010 awal, saat akhirnya Sammy dan Eka memutuskan untuk mundur dari project lantaran kesibukan band mereka masing-masing, yang selanjutnya membuat takdir mempertemukan kami dengan Adi Cumzky (Fable) dan Bonny Sidharta (Dead Squad) sehingga nama RAKSASA PROJECT berganti menjadi RAKSASA. Sejak itulah gue bersama formasi baru band ini memutuskan untuk bikin album dengan materi lagu sendiri.

Semua masih tersimpan utuh di salah satu folder otak gue, dan nggak terasa RAKSASA udah berjalan masuk ke usia 3 tahunnya Agustus 2011 lalu. Album pertama (semoga bukan jadi yang terakhir) pun diluncurkan dengan sukses di akhir tahun kemarin.

Puas? Iya… sejauh ini. Karena pada akhirnya keinginan terpendam gue untuk mainin musik rock lagi – seperti jaman SMA dulu – bisa terwujud. Dan, kebetulan, walaupun akar musik rock-nya beda-beda, tiap personil RAKSASA punya reaksi kimia yang bisa bersenyawa satu sama lainnya. Jodoh? Mungkin. Di band ini, gue ngerasa muda lagi. Proses kreasinya mirip banget kayak NAIF di era awal berdiri (1995). Semua lagu RAKSASA dalam album debut kami ini adalah hasil jam session di studio. Dan yang asiknya, sempat kami berhasil mengkomposisi 3 lagu dalam 1 sesi latihan (3 jam). Yah, lagi dapet aja moodnya mungkin saat itu.

Well, sekarang udah masuk tahun 2012. Apa rencana RAKSASA? Kami berencana untuk gaspol! Dimulai dari mana? Promo album, pastinya! Dulu, di awal 2011 kami sempat merilis single pra album, sebuah lagu berjudul Pesawatku Delay (versi demo) – lagu perkenalan dirinya RAKSASA. Lalu di pertengahan 2011, single kedua pra album berjudul Insomnia diluncurkan. Alhamdulillah, dua lagu tadi mendapat respon positif dari banyak orang. Bikin kami semangat, pastinya! Naah, setelah album rilis, tibalah saatnya untuk shooting videoklip. Rencana shooting klip dilakukan di bulan Januari ini, dan (seharusnya) bisa mulai ON di bulan Februari.

Di antara Pesawatku Delay dan Insomnia, mana kira-kira yang asik untuk dibikin klipnya ya? Anyway… Wish us luck yaa!

LANGKAH AWAL SANG RAKSASA (Sebuah Jurnal Pribadi)

Posted on

Gue mau sedikit share tentang RAKSASA nih. Yes, beberapa waktu lalu RAKSASA baru aja selesai mixing di tempat Mr. JM alias Joseph Manurung, seorang “ahli mencampur” suara musik supaya terdengar lebih ciamik, yang ilmunya sudah nggak perlu diragukan lagi. Dan memang, hasil rekaman RAKSASA terasa lebih nendang berkat racikannya.

Mungkin banyak yang belum tau RAKSASA, side band gue bersama Adi Cumi (Fable, vokal), Iman Fattah (dulu Zeke And The PoPo, gitar), Adrian “Ian” Adioetomo (musisi solo blues, gitar) dan Bonny Sidharta (DeadSquad, bass). Gue sendiri yaa main drums. Untuk info lengkap RAKSASA, silakan intip website pribadi gue (www.frankiindrasmoro.com), atau kunjungi http://www.raksasaband.wordpress.com, dan follow Twitter-nya: @RAKSASA_PROJECT.
Main sama RAKSASA itu menyenangkan. Dan yang pasti bisa jadi sarana gue olahraga. Hehe.. Gue latihan band keringetan cuma kalo main sama RAKSASA dan TheTimeTravellers (side band gue lainnya yang ber-Indorock ria). Bukan karena di NAIF nggak pake power atau males-malesan, tapi karena spirit dari musiknya itu yang rata-rata bertempo cepat. Banyak yang gue pelajari dalam teknik drumming dalam dua band gue selain NAIF itu, terutama dalam bermain speed.

Di RAKSASA (karena sekarang kita ngomongin RAKSASA) gue lebih banyak mengeksplor cara bermain drums bergaya rock yang lebih kental ketimbang di NAIF. Dan pastinya dalam pemilihan sound di rekaman juga beda. RAKSASA lebih modern. Bonny banyak ngebantu gue dalam urusan pemilihan sound drums. Walaupun cukup kental blues dan classic rock-nya, tapi gue nggak mau musik RAKSASA terjebak dalam imej rocker gaek. Gue pribadi pengen band ini terasa muda, walaupun yang main orang-orangnya udah bisa dibilang nggak (terlalu) muda lagi.

Sejak memulai gerakan bareng vokalis Adi Cumi (setelah mundurnya Eka “The Brandals” Annash) dan Bonny (sepeninggalnya Sammy “Seringai” Bramantyo) di awal 2010, kami banyak dibantu oleh Kartika Jahja (Tika And The Dissidents) dalam fasilitas ruang studio di rumahnya yang bebas kami pake untuk latihan. Semua demi ngejar deadline ngumpulin materi untuk debut album. Alhasil, nggak sampe enam bulan, RAKSASA udah dapet 9 lagu. Cukuplah untuk album.

Cukup ajaib juga ngejam bareng empat musisi lintas genre itu. Masing-masing orang ngebawa cara bermainnya. Bayangin aja… Gue dengan pukulan drums classic rock gue, berpadu sama cabikan bass ala metalnya Bonny, digabung sama ritem konstan padat dan suara-suara ajaib dari gitarnya Iman yang dikawinin sama melodi bluesnya Ian. Ditambah pula desahan sexy dan lengkingan tingginya suara Cumi yang terkesan agak fals tapi asik.

“Semua kayak nggak nyambung, tapi unik,” begitu komentar Emil NAIF. Gue sendiri nggak nyangka semuanya bisa digabung. Hehe.. Pokoknya yang menyatukan kami cuma Rock… Itu aja!

Proses pembuatan lagu di studio cukup singkat, tapi yang lama justru proses rekamannya. Maklum, band swadaya… Semuanya serba ngepas dan hasil kolekan kocek masing-masing. Bahkan kami kudu ngamen beberapa kali dulu untuk membiayai rekaman kami. Itu pun setelah dibantu oleh beberapa teman kami yang punya studio rekaman, seperti studionya Taufik Sanjaya (T en T Studio, Kelapa Gading) untuk drums tracking semua lagu kecuali Nyalakan Apimu (beserta instrumen lainnya) yang dilakukan di studionya Bison (B-Sound, Condet), Aroel “Stereomantic” (studio pribadinya di Pejaten), Abim (Rossi Studio, Fatmawati), dan Zeke Khaseli (Black Studio di Panglima Polim).

Belum lagi bantuan tenaga dan waktu dari kawan-kawan kami, Caturadi Septembrianto (Frezia / AVA) sang operator andalan gue untuk drums tracking, Komeng, Charles, dan Rafi Sujud, yang bener-bener memperlancar proses rekaman. Dan seorang teman kami juga, Eunice Nuh, juga turut berandil besar dalam pengadaan panggung pertama RAKSASA memperkenalkan lagu-lagu sendiri.

Keterbatasan kocek itulah yang bikin proses rekaman agak lama dan mau nggak mau harus pindah-pindah studio dan gonta-ganti operator. Karena nggak semua studio dan operator bisa nyamain jadwal kocek kami. Hehe.. Kasian ya? Tapi justru di situ juga letak serunya main di RAKSASA. Gue berasa jadi seperti menapak tilas masa-masa susahnya ngeband di jaman dulu. O iya, bahkan Iman juga sempat beberapa kali turun tangan mengoperasikan alat rekam buat Ian dan Bonny. Waktu itu di studionya Tika.

Sekarang, alhamdulillah RAKSASA udah selesai mixing. Tinggal mastering, sambil mikirin rencana rilis dan promonya. Dan yang pasti, menyesuaikan jadwal para personil dengan band dan kegiatannya masing-masing. Haddeehh, itu juga pe er banget tuh! Hehe..

Beberapa bulan lalu RAKSASA pernah ngerilis single pra album yang judulnya Pesawatku Delay (versi demo) – yang bisa diunduh gratis bareng lagu Nyalakan Apimu (demo) di blog resmi RAKSASA – ke radio-radio. Dan sepertinya dalam waktu dekat ini kami akan ngerilis lagi satu single pra album, yang judulnya Vampir Betina (Penyiksa Iman). Judulnya asik ya? Kerjaannya Cumi tuh! Hehe..

Albumnya sendiri kapan rilisnya, kira-kira?? Kami sendiri belum tau pasti. Targetnya sih di tahun 2011 ini juga. Bismillah. Titip doanya aja yaa…

~ franky Indrasmoro (Pepeng) ~
Jakarta, 22 Juni 2011

Behind the recording of Raksasa

Posted on Updated on

Akhirnya, setelah sekian lama kita struggle di sesi rekaman, akhirnya selesai juga dengan hasil memuaskan. Rekaman Raksasa mungkin untuk saya adalah rekaman dengan teknis paling rumit. Hal ini karena kita beberapa kali pindah studio sehingga perlu penyesuaian. Dari sisi teknis, kita juga sedikit repot dengan berbagai macam perbedaan software sehingga perlu penyesuaian lebih lagi. Untung semua itu berhasil kita tanggulangi tanpa pengorbanan yang besar, hehe.

Berikut, kita akan melakukan mixing lalu mastering yang akan dikerjakan oleh engineer handal Joseph manurung. Beliau ini adalah salah satu pemuka audio engineer di Indonesia yang sudah malang melintang bertahun-tahun. Beliau juga salah satu orang yang mendapat ilmu dengan mengikuti workshop dari Michael Brauer di Perancis. Kita percayakan mixing dan mastering ke beliau mengingat reputasinya. Awalnya, Joseph tertarik mengerjakan musik Raksasa untuk refreshing. “Menurut istilah beliau “cuci kuping” karena selama ini, dia selalu mengerjakan musik dari label besar yang kita semua tahu musiknya seperti apa. Ditambah lagi, beliau ini juga dulunya ngeband rock n’ roll, jadi secara taste musik sangat nyambung dengan kita.

Sedikit menyinggung masalah teknis, kira-kira seperti ini :

  1. Pertama kali, Pepeng rekaman drum di studio di Kelapa Gading (shoot,i forgot the name of the studio, so sorry). Rekaman drum Pepeng dilakukan oleh Catur. Catur ini adalah produser proyek solo Pepeng yang bernama FnF dan juga keyboardist dari band Frezia. Drum direkam dengan menggunakan software Cubase.
  2. Setelah drum selesai, pada umumnya urutannya adalah rekaman bass, tetapi karena pada akhir Desember lalu gitaris kita Adrian Adioetomo harus berangkat ke Bali untuk beberapa bulan, jadilah kita merekam Adrian dulu. Lucunya, karena Adrian lebih banyak mengambil peran lead guitar, jadi bass dan rythm guitar kita rekam guide-nya dulu, baru Adrian rekaman berdasarkan guide itu. Rekaman dilakukan di studio pribadi milik Kartika Jahja dengan saya sebagai engineer-nya, hehe. Adrian direkam menggunakan software Logic Pro 9 dengan Focusrite Saffire Pro 14 sebagai audio interface-nya.
  3. Selesai Adrian, tiba giliran bass. Bonny melakukan rekaman di Black studio milik Zeke khaseli dengan menggunakan Pro Tools HD. Selama 2 hari (4 shift), Bonny rekaman tanpa kendala apapun dan bisa selesai semua lagu dalam 2 hari itu. Karena satu dan lain hal, selesai Bonny take bass disana, kita harus pindah studio lagi, yang akhirnya membawa kita ke…
  4. …Bee Sound studio di Condet. Tiba giliran saya merekam gitar yang dilanjutkan Adi Cumi merekam vokal di studio ini. Rekaman dilakukan dengan Pro Tools HD juga dan kita mengambil Komeng, engineer yang biasa menangani Black studio untuk menangani kita juga disini. Alhamdullillah, saya dan Cumi semua berhasil menyelesaikan rekaman disini tanpa kendala.
  5. Selesai rekaman, ternyata kita menyadari bahwa ada revisi pada departemen vokal dan juga sedikit tambahan backing vokal dan beberapa instrumen seperti tambourine, juga perlu adanya editing drum Pepeng sedikit. Jadilah kita meneruskan di studio milik Aroel. Aroel ini adalah otak dari band elektronik Stereomantic dan studio miliknya berada dirumahnya. Aroel menggunakan software Cubase sehingga data Pro Tools dari sesi rekaman terakhir harus di convert dulu. Berkat skill mas Aroel yang handal, rekaman dan editing bisa dilakukan dengan lancar meskipun berbeda software.
…Dan pada akhirnya, selesai sudah sesi rekaman kita. Berikutnya, mixing dan mastering oleh Joseph Manurung. Kita benar-benar excited akan hal ini. Doakan hal ini berjalan lancar ya,

Amien.
~ Iman Putra Fattah ~
21 April 2011

Slice of your pie #2 : ~ Sepultura – Beneath The Remains ~

Posted on Updated on

Saya sedang melakukan shuffle iTunes saya hari ini dan secara tiba-tiba, iTunes saya memutar lagu dari SEPULTURA – Beneath The Remains dari album dengan judul sama.

Saya agak terhenyak dan kaget dengan kualitas sound yang begitu dahsyat keluar dari headphone saya. Terpikir untuk napak tilas mendengarkan satu album penuh dengan kondisi dan interpretasi saya sekarang dibanding dulu.

Kembali ke tahun 1989, dimana album ini pertama kali keluar, saya meminjam kasetnya dari teman sekelas saya di SMP waktu itu. Tentu saja, karena waktu itu Metal sedang trend dan saya juga tidak mau ketinggalan jaman dong, hehehe.

Saya sudah menyukai musik Sepultura ketika pertama kali mendengarkannya. Waktu itu, media mendengarkan musik untuk saya adalah kaset dengan mini kompo yang menyatu dengan speaker. Tentu kualitasnya tidak bagus, juga waktu itu saya tidak pernah ngeh mengenai kualitas musik.

Sepultura bukan band sembarang metal. Mereka benar-benar tahu apa yang mereka lakukan. Musik metal yang mereka mainkan bisa dibilang berbeda dengan band-band metal saat itu. Mereka cukup berani melakukan perpindahan chord dan beat dengan extreme tanpa mengurangi intensitas musiknya, hampir mendekati progresif (if you put it that way). Itulah yang membuat mereka menjadi band metal favorit saya dibanding band lainnya waktu itu.

Album ini di produseri oleh Scott Burns dan direkam di studio Nas Nuvens, Rio De Janeiro, Brazil. Keseluruhan musik di album ini sangat “tight” dengan sound drum dan bass yang padat dan gitar yang heavy. Ketika saya dengarkan lagi sekarang, banyak terdapat detail yang tidak saya perhatikan ketika pertama kali mendengarkannya 20 tahun lalu. Sound gitar Max Cavalera dengan Andreas Kisser sebetulnya mirip, tetapi ketika solo, gitar Andreas seolah mengoyak kepadatan rythm. Lick dan progresi solo Andreas Kisser kadang terasa tidak masuk dan tidak berada di scale yang sama dengan musiknya, tetapi itu yang membuatnya unik.

Tentu saja, haram hukumnya kita membahas Sepultura kalau tidak memberikan kredit kepada Igor Cavalera, sang drummer maha handal yang menjadi tulang punggung band ini menurut saya. Apabila didengarkan dengan seksama, keseluruhan tone dan frekuensi di album ini berada di level frekuensi yang sama, bahkan di beberapa bagian, suara gitar, bass dan kick drum terdengar sama dan tidak ada bedanya, itu karena sangking “tight” hasil mixingnya.

Dari mulai musik, lirik, produksi sound, cover artwork (bikinan Michael Whelan) di album ini semuanya sempurna.

…Oh, dan alangkah bahagianya saya ketika mereka ternyata datang melakukan konser di Jakarta dulu. Saya bahkan sempat meet & greet dan mendapatkan tanda tangan mereka di kaset “Schizophrenia” saya. Mimpi jadi kenyataan.

Tetapi pengalaman saya dengan Sepultura tidak berhenti sampai disitu. Sekitar 10 tahun kemudian, papah memberikan saya gitar Fender Stratocaster yang saya idamkan sejak lama. Setelah ditelusuri, gitar ini dulu milik Irvan, vokalis dan gitaris band ROTOR yang waktu itu menjadi band pembuka Sepultura. Gitar ini juga yang digunakan olehnya waktu itu, dan gitar ini yang saya mainkan sampai sekarang dan saya beri nama “Shirley” =)

Slice of your pie #1 : ~ Mötley Crüe ~

Posted on Updated on

Nah, karena kebetulan kita mengambil dari judul lagu Mötley Crüe, jadi sekalian saja band ini kita jadikan Slice of your pie #1, hehehe.

Tanya semua orang yang besar ditahun 80-an, semua akan mengangguk setuju bahwa Mötley Crüe adalah salah satu band yang sangat besar hingga banyak sekali meng-influence band-band lain di seluruh dunia. Baik dari segi musikal maupun kehidupan Rock N’ Roll mereka, hehehe.

Kita semua tahu, Mötley Crüe sangat identik dengan sang drummer yang maha kontroversial yaitu Tommy Lee yang menikah dengan Pamela Anderson (yang kisah hidup selebihnya bisa dilihat di E channel TV kabel). Itu hanya dari satu personil, masih ada 3 orang lagi di band ini yang tak kalah brutal kehidupan pribadinya, hehehe.

Diluar itu semua, Mötley Crüe adalah band yang sangat bagus. Mereka memang berangkat dari tahun keemasan Glam rock, bahkan mereka bisa dibilang salah satu punggawanya yang sangat fenomenal. Kita bisa mendengar perubahan musik mereka dari album pertama mereka “Too fast for love (1981)” sampai album terbaru mereka “Saints of Los Angeles (2008)”.

Untuk saya pribadi, album mereka yang paling fenomenal adalah “Dr.Feelgood”  yang dirilis pada tahun 1989 dan berhasil menjadikan mereka salah satu band terbesar kala itu.

Mötley Crüe adalah salah satu band yang menjadi influence kita and you will know it if you listen to them.

~ Iman Putra Fattah (Raksasa) ~

This slideshow requires JavaScript.